Selasa, 25 Maret 2014

Penelitian Anak



KATA PENGANTAR

Segala puji kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas pengamatan bahasa pertama anak usia 2-5 tahun. Laporan ini adalah sebagai tugas akhir mata kuliah Psikolinguistik semester IV STKIP-PGRI Lubuklinggau tahun akademik 2010-2011.
Tulisan ini adalah hasil pengamatan bahasa pertama anak usia 2-5 tahun yang telah kami lakukan selama 1 minggu, yang dilakukan dengan melakukan observasi langsung yaitu langsung mengamati perkembangan bahasa anak.
Bersama ini kami juga sampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya laporan ini, terutama kepada Bapak Dima Sakti.M., M.Pd. sebagai dosen mata kuliah Psikolinguistik yang telah memberikan banyak saran, petunjuk, dan dorongan dalam melaksanakan tugas ini. Rasa terima kasih kami juga sampaikan kepada para penulis buku-buku tentang pemerolehan bahasa pertama anak.
Dalam penyusunan tugas ini tentu jauh dari sempurna, oleh karena itu segala kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan dan penyempurnaan tugas ini dan untuk pelajaran bagi kta semua dalam pembuatan tugas-tugas yang lain di masa mendatang.
Lubuklinggau,            Maret 2011

Penyusun
DAFTAR ISI



Kata Pengantar       ..................................................................................        i
Daftar isi      .............................................................................................       ii
Daftar Gambar      ....................................................................................      iii
Laporan Pengamatan Bahasa Pertama Anak Usia 2-5 Tahun
A. Subjek dan Latar Belakang Orang Tua       .........................................       1
B. Tujuan penelitian        ..........................................................................       2
C. Waktu Penelitian        ..........................................................................       2
D. Metode Pengumpulan Data       ..........................................................       2
E. Deskripsi Hasil Penelitian         ............................................................       2
F. Analisis Data       .................................................................................       7
G. Kesimpulan       ...................................................................................       8
H. Saran        ............................................................................................       8
I. Sumber Rujukan        ............................................................................       9






DAFTAR GAMBAR


Gambar 1. Daffa sedang bermain bersama temannya     .........................       3
Gambar 2. Daffa sedang di kebun nanas     .............................................       4
Gambar 3. Daffa sedang menonton TV bersama orang tuanya   ............       5
Gambar 4. Daffa sedang digendong oleh peneliti     ...............................       7
Gambar 5. Daffa sedang bermain di ruang tamu     .................................       9















LAPORAN PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA
ANAK USIA 2-5 TAHUN


A.                      Subjek dan latar belakang orang tua

Subjek penelitian kami adalah Daffa Affan Nasrullah yang sehari-hari biasa dipanggil “ Dafa ”. Dia dilahirkan di desa Babat pada tanggal 16 November 2008. Dia lahir dalam keadaan normal, baik secara fisik maupun mental.
Ibunya bernama Nova Ria Sari Suryani yang sehari-hari dipanggil “ Nova ”, kelahiran Musi Banyuasin, 30 Desember 1980 adalah kakak sepupu dari salah seorang peneliti Pranita Gustina. Menikah dengan Anang Adil yang sehari-hari dipanggil “ Adil ” pada tanggal 6 Juli 1979. Bahasa yang dipakai sehari-hari di rumah adalah bahasa Lubuklinggau.
Ayah Dafa, Anang Adil berprofesi sebagai petani, dan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Dafa termasuk anak yang lincah, cerewet, tetapi manja. Kegiatan seperti mandi, makan, tidur selalu ditemani oleh orang tua maupun kerabat dekatnya.





A.                Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Psikolinguistik pada semester IV di STKIP-PGRI Lubuklinggau tahun akademik 2010-2011 dan sebagai pendalaman materi bagi mahasiswa dalam memahami pemerolehan bahasa anak usia 2-5 tahun.

B.                 Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan dari tanggal 6-13 Maret 2011. Selama 1 minggu, penelitian tidak mutlak sepenuhnya dilakukan, hanya pada waktu-waktu tertentu yaitu ketika subjek penelitian sedang bermain, menonton televisi, bangun tidur, ke kebun, dan berkomunikasi secara monolog maupun dialog.

C.                Metode Pengumpulan Data

Seperti penelitian yang dilakukan oleh Soenjono Darjowidjojo, data penelitian ini dikumpulkan secara naturalistik dengan sedikit penambahan stimulus untuk memunculkan respon tertentu. Piranti pertama yang dipakai adalah sebuah kamera Handycam, merk Sony, tipe DCR TRV 285E. Selain dari hasil rekaman, data juga dikumpulkan melalui pencatatan langsung.


D.                Deskripsi Hasil Penelitian

Rabu, 9 Maret 2011

Penelitian dimulai dengan mengobservasi langsung ke tempat tinggal Dafa. Peneliti ( Pranita Gustina ) mendapatkan Dafa sedang bermain dengan teman-temannya di halaman rumahnya ketika peneliti berkunjung ke rumahnya. Berikut ini percakapan peneliti dengan Dafa .
 Peneliti        : Fa ....,ke cini dulu.,, tante ado pisang ( mengolok Dafa untuk
                        mendekatinya dan ibunya juga menyuruh Dafa pulang ke rumah ).

LUBUKLINGGAU                                         INDONESIA
Dafa             : Mano.,, ntak te.,,                         “ Mana, minta tante ”
Peneliti         : Tapi cium dulu,baru tante kacih.
Dafa             : Dak alak .,,                                  “ Tidak mau ”
Peneliti         : Ngapo ?                                       “ Mengapa ? ”
Dafa             : tante usuk.,,                                 “ Tante busuk ”
(Sambil tertawa peneliti memeluk dan mencium pipi Dafa dan Dafa berteriak keras )
Dafa             : Mama ...,te nina nakal                 “ Mama, tante yang nakal ”
Mama Dafa  : Siapo nakal Fa ? tante yo .,, mama pokol tantenyo.,, puk..puk... nah dem mama pukul Fa. ( Mama Dafa berpura-pura memukul peneliti  dan peneliti berpura-pura menangis ).
Dafa             : Ma,, ngantok.,                             “ Ma, nagntuk ”
Mama Dafa : Dafaa ngantok.,, yok bobok.,, omong sm tantenyo ..,,te.,, Dafa nak bobok ( Mama menyuruh Zaza ngomong sama peneliti bahwa Dafa mau tidur )
Dafa             : te , Dafa nak bobok.                   “ Tante, dafa mau tidur ”
Peneliti         : Yo.,, tidoklah.,,                           “ Ya, tidurlah ”
Mama Dafa  : Dada tante .,,                              “ Dada tante ”
Dafa             : Da te .,,                                       “ Dada tante ”
Peneliti         : Dada .,,,
( Dafa dan mama masuk ke dalam kamar sambil menutup pintu ).




Gambar 1. Daffa sedang bermain dengan temannya


Kamis, 10 Maret 2011

               Kali ini Dafa, ayah dan ibunya serta beberapa kerabat dekatnya pergi ke kebun nanas miliknya. Berikut momen-momen Dafa mengucapkan beberapa kata ketika sedang berjalan mengelilingi kebunnya.
LUBUKLINGGAU                                         INDONESIA
Peneliti         : Nanas Dafa banyak yo .,,,           “ Nanas Dafa banyak ya ? ”
Dafa             : Yo.,, nas Dafa anyak.                 “ Ya, nanas Dafa banyak ”.
Peneliti         : Yang ni dem masak Dafa.          “ Yang ini sudah masak Dafa ”
Dafa             : Asak.,,, cek te .,,                         “ Masak ..., kupas tante .,,
Peneliti         : Tante ambek pisonyo dulu yo.    “ Tante ambil pisau dulu ya.
Dafa             : yo .,, bek iso.,,                             “ Ya, ambil pisau ”.
( Peneliti kemudian mengambil pisau di gubuk sedangkan Dafa berjalan-jalan sambil menikmati suasana di kebun nanas. Tangannya ia rentangkan seolah-olah ingin terbang ).




Gambar 2. Daffa sedang di kebun nanas


Jumat, 11 Maret 2011

               Peneliti mendatangi tempat tinggal Dafa pada malam hari, peneliti mendapatkan Dafa sedang menonton televisi bersama ibu, ayah, dan keponakannya. Berikut kata-kata yang dia ucapkan .
LUBUKLINGGAU                                         INDONESIA
Dafa             : Ha..ha..ha..  ( dafa tertawa melihat adegan lucu di tv )
Mama Dafa  : Lucu fa yo ?                                “ Lucu Dafa ya ? ”
Dafa             : He ...eh.,, lucu.
Dafa             : Apo tu Ma ?                                “ Apa itu Mama ? ”
Mama Dafa  : Yang mano fa ?                           “ Yang mana Dafa ? ”
Dafa             : Tuna ..,                                        “ Yang itu ”.
( sambil menunjukkkan tangannya ke telivisi dan menunjukkan seseorang yang ada di TV ).

Mama Dafa  : Oh.,, itu namonyo badut.            “ Oh, itu namanya badut ”.
Dafa             : Badut.
Dafa             : Pelotnyo besak nian.                   “ Perutnya besar sekali ”.

Gambar III : Daffa sedang menonton TV bersama orang tuanya


Sabtu, 12 Maret 2011

               Peneliti datang lagi ke rumahnya pada sore hari sambil membawa buah salak dan Dafa bersama ibunya sedang duduk di depan rumah. Berikut ini percakapan antara peneliti dan Dafa.
LUBUKLINGGAU                                         INDONESIA
Dafa             : Apo tuh ?                                    “ Apa itu ? ”
Mama Dafa  : Buah apa itu nak ?                     
Dafa : Menggelengkan kepala
Mama dafa   : Itu namonyo buah sa.... lak.        “ Itu namanya buah salak ”.
Dafa             : Salak.
Kemudian mama dafa bertanya lagi kepada dafa untuk menguji daya ingat Dafa.
Mama Dafa  : Apo namonyo ?                           “ Apa namanya ? ”
Dafa             : salak.
Terus ada ayuk sepupunya ( Ica ) lalu mereka main-main.
Ica                : Dafa ?
Dafa             : Apo ?                                          “ Apa ? ”
Ica                : Nah, ado kucing tu.                    “ Nah, ada kucing itu. ”
Dafa             : Kuteng.                                       “ Kucing .”
Ica                : Sini ..,
Dafa             : Iiiihhh, akot.                                “ Iiihh, takut.”





Gambar 4. Daffa sedang digendong oleh peneliti
Minggu, 13 Maret 2011

Peneliti datang kembali ke rumah Dafa bersama Ica pada siang hari. Peneliti dan Ica membawa inai ( kutek ) dan menggunakannya bersama mama Dafa.
LUBUKLINGGAU                                         INDONESIA
Dafa             : Puno tapo ?                                 “ Punya siapa ? ”
Peneliti         : Punyo tante.                                “ Punya tante. ”
Dafa             : Butan.                                         “ Bukan.”
Peneliti         : Teros, punyo siapo ?                   “ Terus, punya siapa ? ”
Dafa             : Atu.                                             “ Aku.”
Peneliti         : Galak dak ?                                 “ Mau tidak ? ”
Dafa             : Idak galak.                                  “ Tidak mau.”
( Kemudian Dafa ke luar rumah. Tidak berapa lam kemudian ia masuk kembali sambil berlari ).
Dafa             : Ado bolong antu.                        “ Ada burung hantu. ”
Mama Dafa  : Di mano ?                                    “ Di mana ? ”
Dafa             : Dekat lumah ninin.                      “ Dekat rumah ninin.”
( Kemudian Dafa nanya sama peneliti ).
Dafa             : Te, ado bolong antu.                   “ Tante, ada burung hantu.”
Peneliti         : Cakmano burung antu tu ?          “ Seperti apo burung hantu itu ? ”
Dafa             : Mato no betak, ihh.,, atot            “ Matanya besar, ihh... takut.”
( sambil menutup matanya ).

Gambar 5. Daffa sedang bermain di ruang tamu

E.                       Analisis data

               Dari hasil penelitian di atas, peneliti menemukan beberapa penemuan-penemuan pada pemerolehan bahasa pada subjek penelitian ( Dafa ). Analisis data berpedoman pada apa yang telah dilakukan oleh Soenjono Dardjowidjojo kepada Echa untuk mengetahui pemerolehan bahasanya. Namun, dalam waktu yang relatif singkat, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui munculnya kata-kata yang dilontarkan oleh subjek penelitian dan sebatas mana kemampuannya mengucapkan tentang sesuatu.

1.                        Pemerolehan Fonologi

               Pada tahap ini, Dafa sudah mampu mengucapkan kata-kata lebih dari satu kata. Namun masih sulit kata-kata yang berbentuk konsonan berat ( r )
Seperti contoh :  Dafa : Ado bolong antu.
2.                        Pemerolehan Morfologi

 Pada tahap ini, Dafa belum mampu mengucapkan kata-kata yang telah mendapatkan afiks.

3.                        Pemerolehan Sintaksis

Selaras dengan teori pemerolehan bahasa pada anak, penguasaan sintaksis berlangsung secara bertahap : satu kata, dua kata, dan tiga kata atau lebih ( Echa, dalam Dardjowidjojo, 124:2000 )
Seperti contoh :
Dafa             : Apo tu Ma ?
Dafa             : Ado bolong antu.

4.                        Pemerolehan Semantik

Sejalan dengan pengetahuannya mengucapkan kata-kata sesuai dengan kosakata yang ia miliki, Dafa mampu memahami kata-kata yang ia ucapkan. Begitu juga ketika ditanya tentang sesuatu yang ada kaitannya dengan kemampuan penguasaan kosakatanya, ia bisa menjawabnya.



F.                       kesimpulan

Dari hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan :
1.            Dafa belum mampu mengucapkan kata-kata berupa konsonan berat.
2.            Dafa belum mampu mengucapkan kata-kata berupa afiks.
3.            Dafa mampu mengucapkan kata-kata lebih dari satu kata.

4.                        Dafa mampu memahami kata-kata yang diucapkan oleh orang lain sesuai
               dengan penguasaan kosakatanya.

G.                      Saran

Produksi ujaran anak-anak sesuai dengan situasi sosialnya, untuk itu kiranya semua pihak memperhatikan lebih dini agar perkembangan psikolinguistik anak berkembang dengan cepat dan normal. Dan juga, jika ada kekurangan pada makalah penelitian anak yang kami buat ini, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kesempurnaan pembuatan makalah di masa yang akan datang.





DAFTAR PUSTAKA


Dradjowidjojo, Seojono. 2005. Psikolinguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Yayasan Obor : Jakarta.









Minggu, 23 Desember 2012

cerpen aku bukan anak mami


AKU BUKAN ANAK MAMI ....
Karya : D.A. Lani


Sudah beberapa hari ini aku tidak masuk sekolah. Bakteri jahat yang berasal dari nyamuk aides agypti menyerang dan berhasil meruntuhkan benteng pertahanan kekebalan tubuhku. Namun akhirnya aku bisa membalas serangannya dengan genjatan senjata dari peluru-peluru obat yang diberikan oleh dokter. Treng ... sekarang aku pulih kembali. ???? __???? Tapi ... ada masalah baru yang harus kuhadapi saat ini. Ya ... tugas sekolah. Bayangkan saja, sudah 1 minggu aku tidak masuk sekolah. Kabarnya ada pr fisika yang menjadi momok bagiku selama ini ,,, disuruh mengerjakan 10 soal yang susahnya minta ampun,, bisa bikin otak keluar dari cangkangnya.  Bagaimana tidak ...  pertama karena saya memang tidak suka pelajaran fisika. Kemudian memang saya susah menangkap pelajaran mengenai hitung-hitungan. Tapi, dari semua alasan itu, alasan inilah yang bikin saya mati ketakutan yaitu gurunya yang super killer. Dan itu harus dikumpul hari selasa. Itu berarti besok tugas sudah harus dikumpulkan. Bagi yang tidak kumpul ... alamat nasib akan malang,, berdiri di depan kelas sampai pelajaran usai. Kalau kita mau meminta pengampunan sama beliau, kita harus siap-siap menyediakan batu es agar tahan dari pedasnya cabe dari mulut beliau. Maaf Pak saya lupa mengerjakan pr ... beliau menjawab ... tiada maaf bagimu. Dan kadangpula seperti ini .. Pak, minggu kemarin saya sakit, jadi tidak tau kalau ada pr. Dan kata ini yang sangat populer dari beliau, singkat, padat, dan jelas ... “itu derita lo”. Sebelum itu terjadi, lebih baik saya mengerjakan pr-nya .. mau betul atau salah ... terserah .. yang penting buat pr. Itu lebih menyenangkan hati beliau daripada tidak sama sekali. Namun, Ada masalah lagi ... saya lupa halaman berapa. Terpaksa harus ke rumah teman dulu. Maklum,, nggak punya hp. Bingung ... mau ke rumah siapa. Aku ingat-ingat teman sekelas,, Oh iya .., ke rumah Ucok saja ... secara ,, dia kan sahabat karibku dan juga otaknya encer. Sekalian liat jawabannya. He he he... aku tertawa dalam hati. Langsung saja aku ngeluarin motor dan bergegas pergi. Eith ....  baru mau nancap gas, terdengar teriakan memanggil namaku. Dekkkkk ... Dekkkkk ... nak kemano ? suara perempuan paruh baya terdengar keras dari dalam rumah sambil berlari tergopoh-gopoh menjumpai aku diluar. Aku mau main ke rumah kawan dulu mak. Jawabku dengan malas. Karena hampir setiap aku mau pergi bawa motor selalu ditanyain inilah .. itulah .. yang bikin telinga aku gatal. Sepertinya aku ini anak kecil saja yang selalu ditanyain melulu. Hati-hati bawa motor tuh , jingok kiri kanan. Kalu markir motor jangan lupo digembok, sekarang ni musim orang maling. Terus pulangnya jangan lamo nian ... kalau lah sudah balek. Pesan emakku. Iyoooooo mak ... jawabku geregetan. Pesan emak yang sudah 100 persen aku hapal diluar kepala. Nggak jenuh-jenuhnya orang tua ngomel ..., katanya kalau ada yang mau nasehati berarti mereka sayang . tapi kadangkalanya ulah mereka sampai berlebihan sehingga membuat aku risih. Aku sampai malu sama teman-temanku yang lain, sering diejek anak mami. Aib yang selama ini kututup-tutupi akhirnya terbongkar juga. Seperti kata pepatah selincah-lincah bajing melompat, pasti akan jatuh juga. Ya ... seperti itulah kira-kira istilah yang tepat dialamatkan pada saya. Mak dedek pegi dulu ... asalamualaikum., aku berlalu meninggalkan emak membawa motor kesayanganku membebaskan sedikit jiwa-jiwaku yang terkekang. waalaikumsalam. Jawab emakku. Eith.,, baru beberapa meter berjalan .. suara teriakan emakku terdengar lagi. Dedekkkkkkkkkkkkk..,, helmmmmm. Teriakan emak kali ini sungguh mengagetkanku bagaikan suara tarzan yang berteriak di dalam hutan. Emak lalu berlari mengambil helm di rumah dan memberikannya padaku. Kau tuh selalu ... lupo terus bawak helm, helm ini penting, untuk jago palak kau biar selamat. Lagi-lagi emak berceramah, ugh menyebalkan. Sejurus kemudian helm berwarna hijau telah berada di kepalaku. Aku pegi dulu mak ... suara erangan motor terdengar semakin lama semakin menjauh dan hilang meninggalkan emak.
**Angin sepoi-sepoi menyambutku ketika aku berada di merasi. Kesejukan yang jarang  aku dapatkan di daerah tempat tinggalku. Hamparan sawah yang luas nan hijau, dikelilingi pohon nyiur yang melambai-lambai . Akh ..,, sejuknya ... enak ya orang yang tinggal di sini.. pikirku dalam hati. Menikmati panorama  alam sekaligus meneguk kesejukan udaranya menyimpan kebahagiaan tersendiri bagiku. Sampailah sudah motor mengantarku ke rumah Ucok. Tok ...tok ... tok... aku mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati yang dicat berwarna putih itu. asalamualaikum ..., aku mengucapkan salam. sudah berapa kali aku mengucapkan salam ,,, tapi Tidak ada sahutan dari dalam rumahnya. Kok nggak ada yang nyahut .,, apa nggak ada orang di dalam . Aku ketok lagi ... sama, nggak ada jawaban. Lalu aku teriak agak keras ... asalamualaikommmmm ... Ucok... Ucok ... Akhirnya perjuanganku tidak sia-sia, karena ada suara ibuk-ibuk menjawab salamku dari dalam. Waalaikumsalam... sahut ibu Ucok sambil berjalan tergopoh-gopoh. Krek .. terdengar suara ibu membuka pintu. Oh nak dedek ... kirain siapa. Silahkan masuk nak. Ibu mempersilahkanku masuk. Ibu tadi lagi masak di dapur, jadi nggak dengar kalau nak dedek memanggil. Oh ya, masuk dulu nak, dengan ramah Ibu Ucok mempersilahkanku masuk. Ucoknya ada kan Buk ? kataku sambil memasuki rumahnya. Ucokne pegi Dek. Mendengar Jawaban dari Ibu Ucok membuat hatiku  kesal. Udah jauh-jauh aku pergi dari linggau ke merasi, orangnya nggak ada. capek dech . Kemana Buk ? Nah, boten ngertos le. Begitulah si Ucok , kalau pergi nggak pernah bilang dulu. Jawab emak sedikit kecewa dengan kelakuan anaknya itu. Kuurungkan niatku untuk masuk ke rumah. Ya udah kalo gitu, Dedek pulang dulu ya Buk. Bilang aja sama Ucok, kalau tadi Dedek ke sini mau nanyain tugas sekolah. Aku menitipkan pesan sama Ibuk. Iya ... ya ... ntar ibuk sampaiin sama ucok. Dedek pulang dulu ya buk ,,, Assalamualaikum ... Aku pamitan sama Ibuk. Waalaikumsalam ... hati-hati ya le. Aku meninggalkan rumah Ucok dan Ibu masih memandang aku sambil tersenyum. Waduh ... kemana ni ... oh ya ... ke rumah ikbal. Aku putuskan untuk pergi ke rumah ikbal. Sama saja temanku yang bohay ini pun tidak ada di rumah. Kemana lagi ... oh ya,, nita. Tanpa babibu lagi aku langsung ke kosannya. Weleh-weleh ... sama saja ... di pintunya terpasang gombok raksasa tanda orangnya tidak ada di rumah. Nitanya kemano yo buk ...  aku bertanya pada ibuk kos yang sedang mengangkat pakaian di depan kosannya. oh nita ... balek doson. Balek doson ??? tumben dia pulang kampung hari senin. Biasanya hari sabtu. Pikirku dalam hati. Kapan dio ke sini lagi buk ??? katonyo malam. Jawab ibuk sambil tangannya terus mengambil pakaian di tali jemuran. Waduh ... bagaimana ini ??? teman-temanku tidak ada semua ??? bagaimana mau mengerjakan pr ??? Ya sudahlah ... akhirnya aku pulang dengan tangan hampa. Terpaksa aku cari sendiri halaman tersebut. aku ingat-ingat batas pelajaran terakhir. Lalu Aku buka selembar demi selembar. Aku cari dimana letak soal itu berada. Nah ,, ini dia ... soalnya. Tapi ... yang mana ???? terlalu banyak soal di sini. Yang ini atau yang di sebelahnya ? pilihan ganda ... atau esaay !!! esaay bagian 2 atau bagian 3 ... waduh ... pusiiiiing. Mau mengerjakannya semua ... tidak mungkin . 10 soal saja sudah bisa bikin aku sakit kepala ,, apalagi semuanya ... bisa gegar otak ni kepala. Terpaksa main tebak-tebak buah manggis. Aku kerjakan soal pilihan ganda di hal 150. semoga saja pilihanku benar. Pikirku. Akhirnya selesai juga ... aku tertawa sendiri melihat jawabanku yang asal-asalan. Tapi .. nggak papalah ,, kali aja benar. Walaupun nggak menjamin terhindar dari hukuman beliau. Bisa tidur nyenyak ni ... ugh ...
*** Dedek ... teriak ikbal ketika aku masuk ke kelas. Dia berlari memelukku seolah-olah sudah berpuluh-puluh tahun berpisah. Lebay ... kataku. Dia hanya nyengir-nyengir kuda. Tidak berapa lama Ucok dan Nita menghampiri kami berdua. Hei ... apa kabar Dek ... tanya mereka dengan ramah. baik ... jawabku singkat. Oh ya ... kamu sudah ngerjain tugas fisika blom ...? tanya Nita. Sudah ..., Tapi ... benar nggak soalnya ya ... jawabku agak ragu. Lo ... dimana-mana orang bilang benar nggak jawabannya, kok kamu malah nanya benar nggak soalnya ... balas ikbal heran sambil tertawa. Iya ... ya .... terbalik ... mereka tertawa terbahak-bahak. Dengarin dulu,, begini maksudku ... kalian kan tau kalau minggu kemarin aku tidak masuk, jadi saya tidak tau soalnya ada di halaman berapa. Oh iya ... ya ... ,, tapi kan ... Bukannya kemarin sudah aku beritahu ... tanya nita. Nah, masalahnya saya lupa. Aku memberikan alasan. Kenapa nggak ke rumah ... jawab mereka serempak. Aku sudah ke rumah kalian ... tapi tidak ada satupun yang ada di rumah. Kulihat mereka senyum-senyum nggak jelas. Sorry ... sorry ... Kenapa nggak ke rumah lagi malamnya ... aku ada di rumah. tanya nita. Aku juga ... ikbal sama Ucok menimpali. Kalau malam ... saya nggak bisa ... . Kenapa ?? tanya mereka serempak. ... eh ... eh ... ,,, jawabku tersendat. Sebelum aku melanjutkan ikbal telah memotong terlebih dahulu pembicaraanku. aku tahu ... pasti nggak boleh keluar sama maminya. Iya kan ??? tanya ikbal. Maklum ... dedek kan anak mami. Ha .. ha... ha ... mereka menertawakanku. Sialan ... pekikku dalam hati. Mereka mencoba mengingat masa lalu. Ya .. Ini gara-gara aku dicari-cari oleh orang tuaku. Padahal baru jam 8 malam, aku sudah dijemput orang tuaku,,, disuruh pulang. Dari sanalah ... aku harus menanggung  beban dicap sebagai anak mami. Ingin rasanya aku protes terhadap tingkah orang tuaku yang satu ini karena kasih sayang yang berlebihan dari mereka aku diejek teman. Padahal aku sama sekali tidak seperti yang teman-teman pikirkan. Tapi aku tidak bisa ...!!! Aku pura-pura tidak mendengar ketika mereka ngeledekku,,, walaupun sebenarnya kuping ini meleleh kepanasan. Tapi, semakin lama kicauan suara mereka memanggil aku anak mami ... dan ledakan suara tawa mereka membuat aku geram juga. Ingin rasanya aku berteriak keras-keras atau menempelkan tulisan di keningku ... aku bukan anak mami. Ya sudahlah ... semuanya sudah terlanjur. Jadi ... halaman berapa soalnya ... kataku menyadarkan mereka yang dari tadi tertawa mengejekku. Aku cemas penuh harap semoga soal yang aku kerjakan benar. Halaman 151 ... bagian esay. Jawab Ucok. Whattttttt ???? aku terkejut bukan kepalang. Mataku melotot sebesar jengkol dan mulutku menganga selebar jalan tol ( hiperbola.com ). Mati aku. Ternyata pilihanku salah. Nah .. aku mengerjakan tugas hal 150 yang pilihan ganda. kataku sambil mondar-mandir nggak jelas. Mereka semua geleng-geleng kepala. Memikirkan kegilaanku yang salah menulis soal. Bagaimana ini ???   Tet ... tet ... bel berbunyi. Jam pertama akan dimulai, itu tandanya tidak lama lagi Pak Burlian akan masuk dan pr segera dikumpul. Dag ... dig ... dug ... suara musik jantungku semakin keras terdengar. Mau mengerjakan sekarang ... nggak ada waktu lagi. Pasrah adalah satu-satunya jalan yang bisa kutempuh saat ini. tidak lama kemudian,, pak Burlian masuk kelas. Kami semua berlari memasuki kelas. Ketua kelas langsung menyiapkan dan memimpin doa. Selesai itu, terdengar suara pak burlian membuka pelajaran usai ia mengabsen. Silahkan kumpul pr kalian. Pinta pak burlian dengan tegas. Serentak murid-murid mengambil tugas mereka di dalam tas dan segera mengumpulkan di meja pak burlian. semuanya sudah mengumpulkan tugas. Kini tinggallah aku sendiri yang belum mengumpulkan tugas. Aku menoleh ke arah ikbal yang duduk di sebelahku, kupandangi juga Ucok dan nita untuk meminta pendapat mereka. mereka hanya dapat mengangkat tangan tanda pasrah saja. Dengan langkah gontai aku melangkah ke depan mengumpulkan tugas. Aku letakan bukuku paling bawah supaya diperiksa terakhir sekali. Namun,,, yang namanya sial ... tetap sial. Kuliat pak burlian geleng-geleng kepala ketika memeriksa tugasku. Ada apa ini ??? jangan-jangan ... jangan-jangan .., aku teringat dengan soal yang kubuat. Kalau sampai salah ... tamat sudah riwayatku. Aku harus siap-siap menghadapi bencana gempa bumi yang akan menguncangkan dan memporak-porandakan bangunan-bangunan yang ada dalam tubuhku. Ya Allah ... tolonglah hamba ya Allah ... aku berdoa dalam hati untuk menenangkan pikiranku. Dedek .. tanya pak burlian dengan suara keras dan lantang. Iya pak ... jawabku gugup. Ke sini kamu ... kata beliau. Seperti orang linglung aku maju menghadap beliau. Coba liat ... Sama tidak tugas yang kau buat dengan yang dikerjakan temanmu ? tanya beliau sambil menyodorkan buku. Eh... tidak pak. Jawabku sambil mengaruk-garukan kepala. Nah,, berarti kuping kau tuh congekan. Kata pak burlian sekenanya. Spontan teman sekelasku menertawakanku. Aku hanya bisa tertunduk lesu. Bapak minta kerjakan soal esay ... dia mengerjakan soal pilihan ganda. Jaka sambung bawa golok .... Spontan kata-kata beliau langsung disambung oleh wawan,, teman sekelasku yang terkenal jahil. Nggak nyambung ... goblok !!! Sekali lagi teman-temanku menertawakanku. Rasanya muka ini nggak tahan lagi bertengger di kepala ... menahan malu,,,  kalau bisa muka ini sembunyi ...udah kusembunyikan di dalam kantong celana. Tapi itu mustahil. Kemarin saya nggak masuk pak ... aku memberikan penjelasan kepada beliau. Alasan,,, tanya sama teman. Sudah pak ... jawabku. Nah ,,, kenapa bisa salah ??? tanya beliau. Pertanyaan beliau sungguh menyudutkanku. Dijawab atau tidak dijawab sama-sama kena resiko. Seperti makan buah simalaklama saja. Pasti ada SESUATU yang keluar dari mulut beliau. Anu Pak ... saya lupa. Jawabku. Makanya ... jangan terlalu banyak makan calok,,, jadi seperti ini ... otak udang. Ha... ha ... ha ... lagu tawa teman-teman berputar kembali. Masak seperti itu aja lupa.,, kenapa nggak tanya lagi .... Kata beliau. Kemarin saya sudah ke rumah teman pak, mau nanyain tugas ... tapi mereka tidak ada. balasku. ITU DERITA LOOOO..... Sudah berdiri sana. perintah beliau. Nasib ... nasib ... mimpi apa aku semalam. 2 jam aku berdiri mematung di depan kelas. Rasanya waktu berjalan lambat sekali.  Yang tegap berdiri tuh ... jangan seperti orang letoy. pak burlian menegurku. Maklum pak ... anak mami. Timpal wawan.  Ha ha ha .... suara tawa kembali terdengar. Keparat ... pekikku dalam hati. Betapa malunya aku diejek teman sekelas. Aku hanya bisa diam menahan malu. Akhirnya bel berbunyi, itu tandanya penderitaanku akan berakhir. Alhamdulilah .... ya allah. Seperti orang yang baru bebas dari penjara saja rasanya. Jam-jam berikutnya aku tidak kosentrasi lagi belajar ... karena otakku sudah dirusak dengan tragedi di dalam kelas. Bel pulang pun berbunyi .... ugh ... senangnya. Karena aku ingin segera melupakan kejadian yang paling memalukan tadi. Tapi ... ternyata penderitaanku belum juga berakhir. Dalam perjalanan pulang ,,, aku masih diledek temanku. Tidak jenuh-jenuhnya mereka ngeledek aku. Lagi-lagi wawan ... biang keladinya,,, Cepat dikit balek tuh ... gek dicariin maminyo pulo ... kata wawan seenaknya diiringi tawa teman yang lain. Kali ini aku benar-benar tidak dapat lagi menahan amarah yang bergejolak di dada. Batas kesabaranku sudah habis. Ini sudah keterlaluan ... aku berteriak dalam hati. bayangkan ... Hari panas,, perut lapar,, ditambah dapat hukuman dari pak burlian dan ledekan teman di kelas. Kini pulang pun masih diledek. geram sekali rasanya melihat tingkah konyol mereka.  terutama wawan yang kuanggap sebagai monster yang harus segera dimusnahkan. Anak mami ... anak mami .... Dem balek ... jangan lupo minum susu,, ha ...ha... ha... suara tawa mereka berhamburan lagi. Mereka tidak menghiraukanku yang sudah emosi. terus minum obat cacing ... cuci kaki ... cuci tang ..belum sempat wawan melanjutkan perkataannya ... aku menarik kerah bajunya dan memberikan bogem mentah sebagai hadiah. AKUUUUU BUKANNNNNN ANAKKKKKK MAMIIIIII. NGERTIIIIIII ???? Aku teriak sekeras-kerasnya agar dunia tahu kalau aku bukan anak mami. sejurus kemudian aku berlalu meninggalkan mereka yang terperangah melihat tindakanku yang di luar dugaan mereka.



LLg,     September 2012